Mission Indonesia

Pidato Watapri, Dubes Dian Triansyah Djani pada Upacara Peringatan HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

August 17, 2011 Posted under  

 

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,


Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Para undangan yang saya hormati,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang dengan rahmat dan karunia-Nyalah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kita dapat berkumpul memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66 hari ini, serta melanjutkan karya, tugas, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin pula menyampaikan ucapan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, kepada kaum muslimin dan muslimat di Jenewa. Semoga Ibadah kita di Bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT.

Saudara-saudara,

Mencapai kemerdekaan bukanlah suatu hal yang mudah untuk diraih. Para pejuang pendahulu kita dengan semangat juang yang tidak pernah patah, disertai dengan darah dan air mata, memperjuangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Enam puluh enam tahun yang lalu pada hari ini, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di tengah situasi dunia yang diwarnai akhir Perang Dunia II.

Untuk itulah, kita berkumpul hari ini untuk memperingati dan mensyukuri kemerdekaan yang telah kita nikmati selama 66 tahun ini. Secara khusus kita haturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, serta doa kepada para pahlawan dan pendiri bangsa atas perjuangan dan pengorbanannya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan senjata dan diplomasi.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian,

Hari ini kita bertemu dalam suasana perekonomian dunia yang mengkhawatirkan. Gejolak ekonomi di Eropa dan di Amerika Serikat yang dipicu oleh krisis hutang telah menyebabkan anjloknya indeks bursa saham dunia. Penyelesaian dan tanda-tanda perbaikan yang langgeng belum tampak di depan mata dan dampaknya terasakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di sisi lain, dunia juga dihadapkan pada berbagai tantangan global, mulai dari ancaman terorisme dan radikalisme sampai kepada ancaman penyakit menular. Mulai dari kerapuhan ekosistem dan pemanasan global serta berbagai bencana alam, sampai kepada konflik dan peperangan di berbagai belahan dunia.

Di tengah berbagai tantangan dan perubahan cepat di dunia tersebut, Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia sedikit banyak akan terkena imbasnya dan perlu selalu mawas diri dan siaga demi mengantisipasi segala kemungkinan. Pada hari yang berbahagia ini, merupakan kesempatan berharga untuk kita melakukan refleksi diri, mengidentifikasi berbagai tantangan dan capaian serta menetapkan arah ke depan guna mencapai cita-cita Indonesia yang bersatu, aman, damai, adil, makmur dan sejahtera.

Bapak, Ibu, Saudara sebangsa dan setanah air,

Presiden RI telah menyampaikan Pidato Peringatan Hari Ulang Tahun ke-66 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di hadapan DPR dan DPD pada tanggal 16 Agustus kemarin. Dalam kesempatan ini, perkenankan saya untuk menyitir beberapa hal dari Pidato Presiden RI yang menggambarkan arah ke depan bagi bangsa ini.

Dalam sepuluh tahun era reformasi, Indonesia telah berhasil melewati arus sejarah yang tidak mudah, menghadapi gejolak krisis dunia, melakukan perubahan fundamental guna menjawab tuntutan rakyat dan menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan yang paling stabil dan mapan di Asia. Indonesia tumbuh menjadi emerging economy dan berpeluang menjadi negara dengan skala ekonomi sepuluh besar di dunia dalam dua sampai tiga dasawarsa ke depan.

Guna tetap mempertahankan momentum pembangunan, berbagai agenda reformasi perlu terus ditingkatkan. Kabinet Indonesia bersatu secara terus menerus dan konsisten mendorong tegaknya supremasi hukum dan keadilan. Terus ditingkatkan upaya pemberantasan tindak pidana korupsi tanpa diskriminasi dengan tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Meskipun Indeks Persepsi Korupsi terus membaik berdasarkan data Transparency International dengan kenaikan indeks tertinggi di antara seluruh negara ASEAN, namun kita masih harus terus bekerja keras menyempurnakan berbagai aturan/regulasi antikorupsi dan memperkuat lembaga-lembaga antikorupsi.

Di lain pihak, pemberantasan terorisme sebagai bagian dari upaya penegakan hukum terus ditingkatkan, melalui  tindakan tegas diikuti dengan pendekatan preventif melalui upaya deradikalisasi. Gangguan keamanan yang kadang terjadi di daerah tertentu di Indonesia akan disikapi dengan upaya-upaya untuk menjamin tetap terjaganya ketertiban kehidupan masyarakat dan tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di bidang politik, kita telah berhasil melaksanakan proses konsolidasi demokrasi. Kita akan tingkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga demokrasi yang mencakup lembaga yudisial, legislatif, eksekutif, dan media. Di bidang pertahanan, kita akan tingkatkan kemampuan dan profesionalitas TNI.

Di bidang ekonomi, akan ditekankan pada pembangunan yang bersifat inklusif dan sekaligus berkelanjutan, dimana hasil pembangunan harus dinikmati semua masyarakat. Pembangunan di berbagai daerah, khususnya daerah terpencil, akan ditindaklanjuti dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI, dengan penciptaan enam koridor-koridor ekonomi.

Pembangunan akan terus berorientasi pada Pro Growth, Pro Job, Pro Poor dan Pro Environment. Pemerintah akan mengedepankan pendekatan melalui mekanisme ekonomi dengan memperluas investasi dan meningkatkan belanja pemerintah, yang dibarengi dengan pendekatan intervensi positif, dimana pemerintah terlibat langsung dalam penurunan kemiskinan melalui berbagai kebijakan, antara lain Program Raskin, Bantuan Operasional Sekolah, Jamkesmas, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, dan lain lain.

Diharapkan dengan berbagai program dan dengan semakin membaiknya keuangan negara maka kualitas pelayanan dan akses warga terhadap pendidikan dan kesehatan akan meningkat. Demi keadilan yang makin luas, pemerintah memberi perhatian ekstra kepada masyarakat berpendapatan rendah untuk mengkases pelayanan dasar.

Berbagai upaya yang telah dan akan terus dilakukan pemerintah telah membuahkan hasil perbaikan perekonomian Indonesia.  Dalam angka, pendapatan nasional (Gross Domestic Product/PDB) Indonesia sebesar 706,5 milyar dollar AS di tahun 2010, mendudukkan Indonesia pada peringkat 18 besar dunia. Masuknya Indonesia dalam kelompok G-20 dan “Enhaced Engagement Countries” dari OECD menjadi bukti pengakuan dunia.

Berbagai pembenahan di sektor ekonomi juga membuahkan hasil dengan meningkatnya daya saing Indonesia di mata dunia. Pada Global Competitivenes Index (GCI) tahun 2010-2011 oleh World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati peringkat ke-44 dunia, naik dari peringkat ke-54 mengungguli beberapa negara maju di Eropa. Kenaikan peringkat daya saing Indonesia utamanya karena naiknya peringkat pada indikator makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, jumlah simpanan nasional, dan efektivitas kebijakan antimonopoli. Kita mengharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6,3% seperti yang telah ditetapkan.

 

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Tema Peringatan HUT RI ke-66 tahun ini adalah:

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI, Kita Sukseskan Kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN untuk Kokohkan Solidaritas ASEAN.

Tema tersebut menggambarkan betapa pentingnya ASEAN bagi Indonesia dan Indonesia bagi ASEAN. Dipercayanya Indonesia sebagai Ketua ASEAN tahun ini membawa sejumlah tanggung jawab dan kewajiban yang tidak ringan. Kita harus dapat membawa manfaat positif bagi upaya pemajuan ASEAN pada khususnya dan terciptanya stabilitas keamanan di wilayah Asia. Kita berperan aktif memfasilitasi penyelesaian sengketa perbatasan di antara negara ASEAN, dan kita mengarahkan ke terwujudnya Komunitas ASEAN pada tahun 2015.

Di Jenewa, kita juga menjadi Ketua ASEAN Geneva Committee yang memperjuangkan kepentingan ASEAN di berbagai forum dan organisasi internasional di Jenewa.  Bertepatan dengan ulang tahun ASEAN ke-44 yang diperingati tanggal 8 Agustus yang lalu, untuk pertama kalinya hymne ASEAN berkumandang dan bendera ASEAN berkibar di langit Jenewa, serta dikibarkan serentak di seluruh perwakilan negara anggota ASEAN di dunia.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Sebagai salah satu pusat diplomasi multilateral, PTRI Jenewa dituntut berperan aktif membentuk norma-norma internasional dan merumuskan berbagai langkah bersama mengatasi tantangan global. Pada kesempatan ini, izinkanlah saya untuk menyampaikan beberapa capaian dan langkah penting yang telah dilakukan PTRI Jenewa pada kurun waktu 2010-2011.

Di bidang keamanan internasional, dalam kerangka Konvensi Ranjau Darat Anti-Personil, Indonesia menjadi Ketua Bersama dan tercatat sebagai negara yang telah menunaikan kewajiban untuk menghancurkan cadangan ranjau darat tiga (3) tahun lebih awal daripada yang diwajibkan oleh Konvensi Ottawa. Indonesia berperan aktif dalam perundingan Konvensi Senjata Biologis dan perlucutan senjata nuklir.

Dalam hal perlindungan atas hak kekayaan intelektual (HKI), Indonesia memelopori upaya penggalangan dukungan dan posisi bersama negara berkembang melalui Development Agenda Group (DAG), serta dipercaya menjadi Koordinator negara berkembang guna memperjuangkan dibentuknya suatu instrumen hukum internasional yang mengikat sebagai dasar perlindungan sumber daya genetika, pengetahuan tradisional, dan folklor (GRTKF).

Tekad kuat Indonesia untuk memajukan hak-hak azasi manusia (HAM) kembali mendapatkan pengakuan dunia dengan terpilihnya Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB periode 2011-2014 dengan suara terbanyak. Kita, pada bulan Juli yang lalu, juga telah terpilih sebagai anggota Consultative Group Dewan HAM mewakili Kelompok Asia untuk periode 2011-2012 yang untuk pertama kalinya bagi Indonesia. Suatu kehormatan untuk terlibat dalam proses pemantauan situasi dan kondisi HAM di seluruh dunia.

Di forum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia telah memelopori upaya memperjuangkan prinsip keadilan bagi negara-negara berkembang dalam penanganan kesehatan global melalui penataan kembali kerjasama di bawah “Pandemic Influenza Preparedness Framework for the Sharing of Influenza Viruses and Access to Vaccines and other Benefits”. Perjuangan Indonesia tersebut mencatatkan keberhasilan dengan disepakatinya pengaturan baru di WHO mengenai virus sharing dan benefits sharing yang adil, transparan, dan setara.

Terkait penanggulangan bencana, Indonesia mendapatkan penghargaan dunia atas kepeloporan, komitmen, dan dedikasi Presiden Republik Indonesia dan Pemerintah Indonesia dalam mengurangi risiko dan mengatasi berbagai bencana alam dengan dianugerahinya penghargaan PBB “Global Champion for Disaster Risk Reduction” kepada Presiden RI pada tanggal 10 Mei 2011 yang diumumkan di Jenewa oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon.

Pengakuan dunia terhadap kepemimpinan dan keberhasilan Indonesia juga terwujud dengan diundangnya Presiden RI untuk menyampaikan Special Address dalam forum bergengsi Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos pada Januari tahun ini. Dalam pidatonya yang berjudul: “The Big Shift and the Imperative of the 21st Century Globalism” Presiden mengingatkan masyarakat dunia akan pentingnya solusi terhadap isu ketahanan pangan, mengingat semakin tingginya harga bahan pangan dunia dan meningkatnya jumlah penduduk bumi.

WEF juga mendapatkan inspirasi dari pidato Presiden RI tersebut untuk dijadikan tema World Economic Forum on East Asia yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 12-13 Juni 2011 yang lalu, yaitu “Responding to the New Globalism”.

Presiden RI juga telah diundang untuk menyampaikan pidato dalam Special Sitting di Sesi ke-100 International Labour Conference di Jenewa bulan Juni yang lalu. Presiden RI dalam kesempatan itu menyoroti pentingnya koalisi global untuk mengatasi tingkat pengangguran di kalangan muda dan pentingnya perlindungan bagi hak-hak dan kepentingan para pekerja migran.

Indonesia gigih pada komitmen memajukan perdagangan dunia di berbagai forum termasuk UNCTAD. Telah disepakati mekanisme penurunan tariff perdagangan di antara negara berkembang oleh negara-negara anggota Global System of Trade Preferences among Developing Countries (GSTP) yang merupakan wujud komitmen dalam rangka pemajuan perdagangan dan kerjasama nyata Selatan-Selatan.

Indonesia juga giat mengupayakan kelanjutan perundingan Putaran Doha di WTO dengan mengedepankan dimensi pembangunan dan proses perundingan yang transparan. Indonesia konstruktif mendorong kemajuan perundingan, dengan aktif di forum Cairns Group untuk peningkatan pasar melalui pemotongan subsidi domestik dan penghapusan subsidi ekspor, dan sebagai Koordinator G-33 yang memperjuangkan konsep Special and Differential Treatment bagi negara berkembang dan negara miskin. 

Terkait lingkungan hidup, khususnya mengurangi dampak merugikan limbah berbahaya, Indonesia menjabat sebagai Presiden Konvensi Basel sejak 2008 dan memelopori upaya untuk mendorong langkah-langkah strategis dalam mengefektifkan pelaksanaan Konvensi Basel.

Kiprah aktif Indonesia dalam forum telekomunikasi dunia kembali mendapat pengakuan internasional dengan terpilihnya kembali Indonesia sebagai anggota Dewan International Telecommunication Union (ITU) untuk periode 2010-2014, dengan suara terbanyak di kawasan.

Berhasil terpilihnya Indonesia pada berbagai forum internasional dan meningkatnya warga negara Indonesia yang memiliki jabatan di fora internasional merupakan modal dan bekal bagi penguatan upaya pencapaian kepentingan nasional Indonesia di arena internasional.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian,

Dalam satu dasawarsa sejak 1999 hingga 2009, telah terbentuk 205 daerah baru dari Sabang sampai Merauke sehingga kini Indonesia memiliki 33 provinsi, 398 kabupaten, dan 93 kota. Di seluruh daerah itu, di pelosok pedalaman, perbatasan, dan di pulau-pulau terpencil, saudara-saudara kita para guru, bidan, penyuluh pertanian, kepala kampung, tentara penjaga perbatasan, dan lainnya, tak lelah mengabdi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mereka adalah pahlawan-pahlawan bangsa yang bekerja dalam sunyi, dengan keikhlasan yang melampaui panggilan tugasnya.

Di seluruh pelosok dunia terdapat pula insan-insan warga negara Indonesia yang menunaikan tugasnya masing-masing, baik sebagai pelaut, TKI, pekerja rumah tangga, pekerja konstruksi, tenaga ahli, diplomat, maupun profesional di organisasi-organisasi internasional di Jenewa ini. Sejatinya, mereka semua juga pahlawan-pahlawan bangsa yang kadangkala harus ikhlas memenuhi panggilan tugas jauh dari lingkungan keluarga dan tanah airnya. Kita patut berbangga dan berterima kasih kepada mereka.

Menoleh perjuangan-perjuangan mereka, saya jadi teringat akan pidato Presiden Soekarno yang menggelegar pada 17 Agustus tahun 1963 di Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai berikut:

 

“Dari Sabang sampai Merauke. Empat perkataan ini bukanlah sekedar rangkaian kata ilmu bumi atau geographic begript atau geographical entity. Ia adalah suatu kesatuan kebangsaan, suatu kesatuan kenegaraan yang bulat kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad dan kesatuan ideologi yang amat dinamik. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun.

 

Karena itu, Hai seluruh bangsa Indonesia, tetap tegakkanlah kepalamu, jangan mundur, jangan berhenti, tetap derapkanlah kakimu di muka bumi.”

 

Saudara-saudara sekalian,

Dengan semangat proklamasi, marilah kita bersatu menderapkan langkah melanjutkan perjalanan panjang untuk memperbaiki yang harus diperbaiki dan meningkatkan capaian-capaian keberhasilan yang telah diraih. Kita warisi nilai-nilai persatuan dan kegigihan untuk bekerja keras dari para pendahulu kita untuk terus mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang besar, maju dan sejahtera, adil dan damai.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, selalu melimpahkan rahmat, karunia, dan ridho-Nya kepada kita semua.

 

Dirgahayu Republik Indonesia!

 

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Jenewa, 17 Agustus 2011