Mission Indonesia

Indonesia tekankan peran peneliti/ilmuwan lokal dalam kerjasama internasional di bidang Biodiversity dan Ecosystem Services

October 10, 2011 Posted under Economy, Development and Environment 

 

IPBESAlih teknologi, pengembangan kapasitas, dan peran ilmuwan lokal harus menjadi perhatian utama dalam kerjasama internasional mengenai biodiversity dan ecosystem services. Hal tersebut ditekankan oleh Duta Besar Dian Triansyah Djani (Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa) sebagai Ketua Delegasi RI pada Pertemuan Pertama Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) yang diselenggarakan di Nairobi, Kenya, tanggal 3-7 Oktober 2011.

Pertemuan IPBES pertama yang dibuka oleh Wakil Presiden Kenya, Mr. Kalonzo Musyoka, dan difasilitasi oleh Mr. Achim Steiner, Executive Director UNEP, ini telah memberi penghormatan kepada Prof. Wangari Maathai, pejuang lingkungan, konservasi dan aktifis sosial/HAM dari Kenya yang merupakan pemenang Nobel Perdamaian tahun 2004 yang wafat pada tanggal 25 September 2011.

Dalam pertemuan yang bertujuan untuk menentukan modalitas dan pengaturan institusional, termasuk status hukum IPBES tersebut, Indonesia menekankan pentingnya IPBES untuk bekerjasama dengan 6 biodiversity-related Multilateral Environment Agreements (MEAs) yang ada, tanpa duplikasi atau tumpang tindih. Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya masalah kedaulatan atau sovereignty dalam bidang keanekaragaman hayati dan ecosystem services sebagaimana tertuang dalam Rio Declaration dan Convention on Biological Diversity.

Alih teknologi, pengembangan kapasitas, dan peran ilmuwan lokal dipandang penting guna menjamin terakomodasinya kepentingan dan akses negara berkembang dalam setiap kegiatan internasional di bidang keanekaragaman hayati dan ecosystem services. Hal-hal itu juga penting untuk membantu negara berkembang dalam memformulasikan kebijakan nasional yang berlandaskan riset guna konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan dari keanekaragaman hayati melalui integrasi pengembangan kapasitas dan alih teknologi.

Untuk menjamin pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berlimpah bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat, Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya penggunaan dan pengakuan terhadap local knowledge, pemberdayaan peneliti lokal, serta meningkatkan local ownership.

Pertemuan yang dihadiri oleh 112 delegasi yang mewakili pemerintah, organisasi internasional, peneliti dan LSM tersebut menyepakati pentingnya pendirian IPBES guna menjamin adanya science and policy interface dalam hal keanekaragamana hayati dan ecosystem services di dunia yang tengah mengalami kerusakan lingkungan hidup.

IPBES merupakan upaya negara-negara untuk menjembatani kesenjangan antara science dengan policy di bidang keanekaragaman hayati. Konsep IPBES pertamakali dibahas di Putrajaya, Malaysia (2008), dan dilanjutkan di Nairobi, Kenya (2009), dan Busan, Korea Selatan (2010).