Mission Indonesia

Indonesia dan Swiss Atasi Kebuntuan Perundingan Konvesi Basel

October 22, 2011 Posted under Economy, Development and Environment 

 

“Inisiatif Indonesia dan Swiss berhasil mendobrak 16 tahun kebuntuan perundingan pemberlakuan Ban Amendment Konvensi Basel yang mengatur pergerakan lintas batas dan pembuangan limbah berbahaya,” demikian disampaikan Duta Besar Dian Triansyah Djani, Wakil Tetap RI untuk PBB, yang memimpin Delegasi RI pada Conference of the Parties ke-10 (COP-10) di Cartagena, Kolombia, tanggal 21 Oktober 2011.

Pada COP-10 tersebut, negara-negara Pihak Konvensi Basel berhasil mengadopsi secara konsensus Omnibus Decision yang diajukan Indonesia dan Swiss untuk mendorong pemberlakuan Ban Amendment guna mengefektifkan Konvensi tersebut dengan melarang ekspor limbah berbahaya dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang.

Duta Besar Djani menjelaskan bahwa sebagai negara dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia memandang penting kerjasama internasional yang melarang pergerakan lintas batas dan pembuangan limbah berbahaya.

“Diadopsinya inisiatif Indonesia dan Swiss secara aklamasi oleh negara-negara maju dan berkembang adalah keberhasilan kerja keras dan diplomasi Indonesia selaku Presiden COP-9 Konvensi Basel, yang selama 3 tahun ini terus aktif bersama dengan Swiss mengupayakan agar Ban Amendment dapat segera diberlakukan,” lanjut Dubes Djani setelah Omnibus Decision berhasil disahkan oleh COP-10.

Selain pendekatan diplomatik, Indonesia dan Swiss juga telah melakukan kampanye di berbagai forum dan di seluruh ibukota negara pihak Konvensi Basel guna menggalang dukungan bagi Omnibus Decision. Kerja keras dan kepemimpinan Indonesia dan Swiss mendapat apresiasi dengan standing ovation dari seluruh delegasi COP-10 sesaat setelah disahkannya keputusan tersebut.

“Indonesia siap bekerjasama dan mendorong negara-negara pihak Konvensi Basel untuk menindaklanjuti keputusan COP-10 mengenai Ban Amendment dengan implementasi nyata,” juga ditegaskan oleh Masnellyarti Hilman, Deputi Menteri Lingkungan Hidup.

Konvensi Basel yang mulai berlaku sejak tahun 1992 merupakan perjanjian internasional yang paling komprehensif menyangkut limbah berbahaya. Konvensi yang beranggotakan 178 negara pihak tersebut bertujuan melindungi lingkungan hidup dan kesehatan manusia dari dampak berbahaya yang ditimbulkan limbah berbahaya dan beracun, termasuk dari pergerakan lintas batas dan pembuangannya.

Ban Amendment untuk lebih mengefektifkan Konvensi Basel, yaitu pelarangan ekspor limbah berbahaya dari negara maju ke negara berkembang yang tidak memiliki kapasitas pengelolaan limbah, telah disepakati sejak tahun 1995. Inisiatif Indonesia dan Swiss yang telah diadopsi di Cartagena akan segera memberlakukan Ban Amendment yang telah lama tertunda.

 

Jenewa, 22 Oktober 2011