Mission Indonesia

Indonesia Memenangkan Kasus Rokok Kretek di Tingkat Banding di WTO

April 04, 2012 Posted under Trade/WTO 

 

INDONESIA MEMENANGKAN KASUS ROKOK KRETEK DI TINGKAT BANDING DI WTO

Jenewa, 4 April 2012

 

Penyelesaian sengketa dagang internasional di dalam forum Dispute Settlement Body di WTO ditempuh apabila kebijakan suatu negara dianggap melanggar ketentuan WTO dan merugikan negara lain.

Dalam kasus rokok kretek ini (DS 406 - United States – Measures Affecting the Production and Sale of Clove Cigarettes), Indonesia berpendapat bahwa Amerika Serikat (AS) mengeluarkan kebijakan yang merugikan Indonesia dengan mengeluarkan kebijakan yang melarang peredaran rokok beraroma, termasuk rokok kretek, namun mengecualikan rokok beraroma menthol. Terkait dengan hal ini, Indonesia berpandangan bahwa AS melakukan diskriminasi dagang dan melanggar ketentuan WTO.

Pada tanggal 2 September 2011, Panel telah memenangkan posisi Indonesia dengan menyatakan bahwa ketentuan nasional AS merupakan bentuk diskriminasi dagang dan melanggar ketentuan WTO.

AS mengajukan banding ke Appelate Body pada 5 Januari 2012 karena pihaknya tidak puas terhadap laporan Panel dimaksud. Oral hearing di Appelate Body diselenggarakan pada tanggal 9 Februari 2012 untuk mengkaji interpretasi hukum yang termaktub dalam laporan Panel, dan bukan untuk memeriksa novum (bukti) baru.

Pada tanggal 4 April 2012 telah dikeluarkan laporan Appelate Body yang memenangkan kembali posisi Indonesia dan membuktikan bahwa Panel tidak melakukan kesalahan dalam analisa laporannya. Appelate Body menyatakan dalam putusannya bahwa AS melakukan pelanggaran ketentuan Perjanjian WTO dalam hal ini the Technical Barrier to Trade Agreement (TBT).  AS dinyatakan melanggarkan ketentuan Pasal 2.1 TBT mengenai less favourable treatment atau diskriminasi dagang, dan Pasal 2.12. mengenai reasonable interval terhadap waktu sosialisasi dan penetapan kebijakan.

Appelate Body merekomendasikan agar Amerika Serikat merubah kebijakannya mengenai larangan rokok agar sesuai dan sejalan dengan ketentuan WTO, khususnya ketentuan Perjanjian TBT.

Menanggapi laporan ini, Duta Besar Erwidodo menyatakan bahwa kemenangan yang diperoleh oleh Indonesia perlu disyukuri. Namun demikian, hal ini juga kiranya dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh negara, termasuk Indonesia bahwa siapapun yang melanggar ketentuan WTO harus siap diperkarakan dan kalah dalam proses peradilan DSB. Duta Besar Erwidodo juga menyampaikan penghargaannya atas kerja keras Appelate Body WTO yang telah menghasilkan keputusan yang netral dan adil dalam kasus ini. Indonesia berharap bahwa AS akan melaksanakan keputusan AB ini secara konsisten.

Berdasarkan ketentuan Dispute Settlement Understanding (DSU) Pasal 17.14, maka keputusan AB akan diadopsi oleh Dispute Settlement Body (DSB) setelah 30 (tiga puluh) hari dikeluarkannya laporan AB, yakni pada awal bulan Mei 2012.

Hasil keputusan Panel dan Appelate Body WTO terhadap kasus ini dapat diunduh melalui alamat:  http://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/cases_e/ds406_e.htm.