Mission Indonesia

Seminar on Exchange Rates and Trade

April 17, 2012 Posted under Trade/WTO 

 

Seminar on Exchange Rates and Trade

Keterkaitan antara tingkat nilai tukar mata uang dan kinerja perdagangan internasional telah menjadi perhatian para pengambil kebijakan, praktisi dan akademisi. Permasalahan berkembang menjadi sangat kompleks ketika fluktuasi nilai tukar mata uang terjadi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi kinerja pedagangan internasional. Untuk membahas lebih mendalam fenomena tersebut, atas usulan Perwakilan Tetap Brasil untuk WTO di Jenewa, pada tanggal 27 – 28 Maret 2012, di WTO telah dilangsungkan “WTO Seminar on Exchange Rates and Trade”. Indonesia sendiri sejak awal menjadi salah satu negara yang mendukung inisiatif seminar tersebut. Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada negara anggota, seminar menghadirkan beberapa pembicara dari kalangan praktisi, pengambil kebijakan, organisasi internasional dan akademisi.

Dalam sambutan pembukaannya, Dirjen WTO, Pascal Lamy, menghargai penyelenggaraan seminar tersebut yang dinilai sebagai langkah awal untuk meningkatkan koherensi antara kebijakan moneter dengan kebijakan perdagangan. Koherensi tersebut sebenarnya telah tercermin dalam GATT artikel XVI yang meminta negara anggota untuk melakukan koordinasi yang erat dengan IMF terkait dengan kebijakan nilai tukar mata uang, dengan pertimbangan hal tersebut akan dapat dapat mempengaruhi kegiatan perdagangan.

Dari paparan pelaku bisnis, terdapat korelasi antara volatilitas nilai tukar mata uang dengan kinerja ekspor. Terapresiasinya mata uang setempat terhadap mata uang asing dituding telah menyebabkan menurunnya daya saing produk ekspor mereka. Pembicara dari Brasil dan Afrika Selatan yang merupakan pengusaha, menyampaikan telah terjadinya “de-industrialisasi” sebagai akibat terapresiasinya mata uang mereka. Sementara itu, pembciara dari China, yang berasal dari Bank Ekspor China, menyampaikan bahwa fluktuasi nilai tukar mata uang bukanlah penyebab tunggal dari menurunnya daya saing produk ekspor. Sementara itu, pengusaha dari Swiss menyatakan bahwa menurunnya daya saing produk ekspor dapat diantisipasi dengan strategi bisnis yang tepat.

Sementara itu dari pembicara yang berasal dari kalangan pengambil kebijakan mengakui bahwa terjadinya misalignment nilai tukar mata uang dan kebijakan untuk mematok nilai tukar mata uang pada tingkatan tertentu (pegging) telah menyebabkan terjadinya “persistent undervalue” yang akan mengganggu arus perdagangan internasional. Beberapa negara, seperti Brasil dan US menengarai bahwa pada saat ini terdapat ketidakseimbangan dalam tingkat nilai tukar mata uang yang menyebabkan terganggunya kegiatan perdagangan internasional. Namun demikian, di dalam seminar terdapat kesuiltan untuk menentukan tingkat keseimbangan yang diperlukan untuk menjamin tetap lancarnya kegiatan perdagangan internasional. Namun demikian, hampir seluruh pembicara sepakat mengenai diperlukannya suatu koordinasi di tingkat multilateral yang melibatkan negara dan organisasi internasional untuk mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi volatilitas nilai tukar mata uang. Secara khusus Prof John Murray (Deputi Gubernur Bank Sentral Canada) menyatakan bahwa WTO dan IMF dapat memainkan perannya untuk mengatasi permalasahan yang terkait dengan misalignment dan dampaknya terhadap perdagangan internasional.  

Beberapa kesimpulan penting yang dapat ditarik dari seminar di atas adalah:  tingkat nilai tukar mata uang bukanlah isu baru dalam GATT/WTO; perlunya melaksanakan sistem nilai tukar mata uang berdasarkan mekanisme pasar; menghidari terjadinya persistent undervalue; dan perlu ditingkatkannya koherensi antara kebijakan nilai tukar mata uang dan kebijakan mengenai perdagangan internasional. (ydi)