Mission Indonesia

Simposium International Mobile Roaming di WTO

April 17, 2012 Posted under Trade/WTO 

 

Simposium International Mobile Roaming di WTO

Pada tanggal 22 Maret 2012, di WTO Jenewa telah dilaksanakan Simposium International Mobile Roaming (IMR). Simposium tersebut terselenggara atas inisiatif delegasi Australia yang kemudian mendapatkan dukungan dari beberapa negara anggota WTO, termasuk Indonesia.

Simposium tersebut dilaksanakan untuk membahas masih sangat tingginya biaya (charge) IMR, yang kemudian memunculkan fenomena “silent roamers”. Berdasarkan penelitian, setiap tahun terdapat 75 juta pelanggaan telepon genggam yang melakukan perjalanan melintasi batas negara. Namun demikian, dari jumlah tersebut hanya 50 persen yang menggunakan layanan suara dan hanya 30 persen yang menggunakan layanan data. Melalui simposium diharapkan dapat diidentifikasi upaya-upaya yang diperlukan untuk menurunkan biaya IMR sekaligus memanfaatkan potensi ekonominya. Bertindak sebagai pembicara wakil wakil dari operator, regulator dan wakil-wakil dari organisasi internasional, seperti OECD, ITU dan WTO.

Pembicara dari operator secara umum menyampaikan kondisi pasar IMR saat ini, di mana biaya IMR ditentukan melalui skema kerjasama bilateral antara operator untuk menentukan tingkat biaya wholesale dan retail. Dalam kasus tertentu tingkat biaya IMR dapat diturunkan melalui berbagai paket layanan (bundle) yang ditawarkan oleh operator. 

Beberapa pembicara yang mewakili regulator menyampaikan pengalamannya mengenai pengaturan biaya IMR. Mayoritas pembicara menyampaikan bahwa penentuan tingkat biaya IMR sepenuhnya dilakukan oleh operator tanpa campur tangan yang berlebihan dari  pemerintah. Namun demikian, dalam derajat tertentu kerjasama regional dan bilateral antar pemerintah dapat menentukan batas atas biaya (price cap). EU misalnya telah menerapkan price cap bagi biaya IMR yang berlaku di wilayah EU.

Sementara itu, wakil-wakil dari ITU, WTO dan OECD menyampaikan berbagai pembahasan yang telah dilakukan di dalam organisasinya masing-masing. OECD sendiri telah mengeluarkan rekomendasi yang menyarankan untuk pengaturan mengenai wholesale and retail price dari IMR (baik bilateral ataupun regional), termasuk bekerjasama dengan WTO.

Pembicara WTO, menyoroti permasalahan IMR dari segi penentuan harga (pricing). Dari perspektif perdagangan internasional, pembahasan mengenai IMR dapat didasarkan pada dokumen “Reference Paper” dan “Annex on Telecommunication” yang mengatur mengenai interkoneksi  dan kompetisi. Sementara itu, pembicara dari ITU menyampaikan bahwa telah tercapai kesepakatan di antara negara-negara anggota untuk membahas isu IMR. Namun demikian, terdapat kehati-hatian dari negara anggota untuk menciptakan kewajiban-kewajiban baru yang sifatnya mengikat untuk mengatur IMR.

Meskipun tidak menghasilkan tindak lanjut yang sifatnya preskriptif, simposium berhasil membuka perspektif baru mengenai pentingnya upaya untuk mengatasi tingginya biaya IMR. Dari perspektif tersebut diperlukan kerjasama di antara negara-negara anggota untuk melengkapi berbagai pendekatan bilateral dan regional yang telah dilakukan oleh beberapa negara anggota. (ydi)