Mission Indonesia

SPS-Penutupan Pelabuhan Impor Utama Buah-buahan di Indonesia menjadi sorotan

April 17, 2012 Posted under Trade/WTO 

 

SPS-Penutupan Pelabuhan Impor Utama Buah-buahan di Indonesia menjadi sorotan

 

Kebijakan Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 89 tahun 2011 untuk menutup beberapa pelabuhan impor utama buah-buahan di Indonesia, termasuk Tanjung Priok, menjadi sorotan dalam Pertemuan Formal SPS Measures Committee di Jenewa, 28 – 29 Maret lalu.

 

Permentan tersebut mengatur pengurangan entry point produk impor buah-buahan segar yang semula 8 pelabuhan, menjadi 4 pelabuhan, yakni Pelabuhan Belawan, Bandara Soekarno Hatta, Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Makassar.

 

Dalam pertemuan tersebut, Amerika Serikat sebagai salah satu eksportir utama buah-buahan segar ke Indonesia menyampaikan kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut akan mengakibatkan biaya tambahan yang akan berpengaruh pada harga buah dan menurunkan kualitas buah. Saat ini hampir 90 persen buah-buahan segar masuk melalui Tanjung Priok. Kekhawatiran ini didukung oleh Uni Eropa, Australia, Chili, Kanada, Selandia Baru dan Afrika Selatan.

 

Lebih lanjut, Amerika Serikat menambahkan bahwa kebijakan Indonesia tersebut tidak didukung oleh justifikasi ilmiah yang memadai.

 

Pada kesempatan terpisah, Menteri Pertanian RI menyatakan bahwa kebijakan penutupan  beberapa pelabuhan entry point produk buah-buahan impor ini bukan bertujuan menghalangi masuknya impor buah. Kebijakan tersebut lebih bertujuan untuk melindungi konsumen dan produsen lokal dari bahaya penyakit eksotis yang dibawa oleh produk tersebut, yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia.

 

Pelabuhan Tanjung Priok ditutup dengan alasan bahwa pelabuhan tersebut telah terlalu padat dan belum dilengkapi dengan fasilitas karantina dan laboratorium yang memadai untuk mencegah masuknya penyakit eksotis dari buah-buahan impor. Saat ini Pelabuhan Tanjung Priok menerima sekitar 1500 kontainer per hari dan 150 diantaranya merupakan kontainer produk pertanian. Hal ini mengakibatkan pengawasan terhadap kesehatan buah-buahan impor menjadi kurang memadai. (dim)