Mission Indonesia

Pemerintah Dorong Peningkatan Keterlibatan WNI di Organisasi Internasional

November 19, 2010 Posted under Economy, Development and Environment Health and Labour Issues 

 

Sebagai negara besar yang memiliki banyak sumber daya manusia dengan standard kualifikasi internasional, Indonesia harus berupaya meningkatkan keterlibatan dan peran pentingnya di berbagai Organisasi Internasional”. Demikian ditegaskan oleh Duta Besar/Wakil Tetap RI untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa, Dian Triansyah Djani dalam sambutan pembukaannya pada acara diskusi ”Peningkatan Kiprah Indonesia di Organisasi Internasional melalui Pemanfaaatan Peluang Kerja Warga Negara Indonesia (WNI) pada Organisasi Internasional (OI)” yang bertempat di Kantor PTRI Jenewa, Jumat, 19 November 2010.

PTRI Jenewa merasa terpanggil untuk mensinergikan semua potensi anak bangsa yang saat ini bekerja pada OI yang berada di Jenewa untuk merumuskan saran kebijakan bagi Pemri mengenai strategi peningkatan keterlibatan Indonesia pada OI. ”Keterwakilan WNI yang bekerja di berbagai OI di seluruh dunia masih sangat rendah. Padahal upaya peningkatan jumlah WNI di lembaga OI merupakan kepentingan strategis untuk membangun "Indonesia Network" di masa mendatang. Sebagai contoh, di Jenewa tercatat hanya 34 (tiga puluh empat) WNI yang bekerja di berbagai OI pada berbagai tingkatan”, demikian dipaparkan oleh Dubes Djani.

Diskusi menghadirkan WNI yang bekerja pada berbagai OI di Jenewa, Rasyidah Lubna Abdoerrachman (WHO), Arhleen Mical Lolong (WHO), Bajoe Wibowo (WIPO), Cessy Karina (ITU), Dadan Wardhana (UNEP), dan Markie Muryawan (UNCTAD), dan diikuti secara aktif oleh seluruh Pejabat dan Staf PTRI Jenewa.

Para narasumber menyampaikan bahwa masih banyak peluang bagi WNI untuk menduduki berbagai posisi dan lowongan pekerjaan yang tersedia di berbagai OI di mana Indonesia menjadi anggota. Selain itu, OI pada umumnya juga menyediakan program magang (internship), relawan (volunteer) serta pengumandahan (secondment) yang dapat dimanfaatkan untuk belajar dan menambah pengalaman kerja pada OI.

Isu lain yang dibahas adalah isu-isu aktual/mengemuka di masing-masing OI dimana Indonesia dapat berperan aktif, seperti peluang bantuan teknis apa saja yang dapat diraih, serta best practices apa saja yang harus dilakukan untuk memperoleh bantuan tersebut. Dalam kaitan tersebut, para narasumber mengutarakan pentingnya koordinasi antara instansi pemerintah terkait di Indonesia agar dapat memperoleh berbagai tawaran bantuan teknis secara lebih terarah dan sistematis.

Diskusi yang mengambil format brainstorming dari seluruh pembicara dan peserta ini, membuahkan rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah untuk meningkatkan kiprah Indonesia melalui pemanfaatan peluang bekerja WNI pada OI. Salah satu rekomendasi konkrit adalah bagi PTRI Jenewa untuk mengumpulkan informasi tentang peluang bekerja dan bantuan teknis di masing-masing OI. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk disebarluaskan ke masyarakat Indonesia dan dilakukan mix and match agar menempatkan orang-orang yang tepat pada posisi yang tepat.  Rekomendasi lainnya adalah agar dapat dianggarkan untuk mengirim intelektual muda Indonesia guna mengikuti berbagai program magang dan training di berbagai OI di Jenewa.

 

Jenewa, 19 November 2010