Tentang PTRI Jenewa
Wakil Tetap RI
Staf PTRI Jenewa
Aktifitas
Hubungi Kami
Para Wakil Tetap RI
HUT RI KE-61
HUT ke-62 KEMERDEKAAN RI
Masyarakat
Keadaan Alam
Pemerintahan
Perlucutan Senjata
Hukum Internasional
HAKI
Hak Asasi Manusia
Sosial & Kemanusiaan
Ilmu & Teknologi
Ekonomi, Perdagangan & Pembangunan
Lingkungan Hidup
Kerjasama Selatan-Selatan
Perdagangan Internasional
Kesehatan
Lain-lain
Siaran Pers
Pernyataan
Gallery Photos



Senin, 15 Agustus 2005
MASYARAKAT

Bangsa
Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan di mana penduduknya meskipun berasal dari nenek moyang yang sama, akan tetapi karena terpisah oleh lautan yang memutus hubungan mereka, telah menyebabkan perkembangan budaya yang beragam, termasuk bahasa dan pertumbuhan yang menyebabkan terjadi perbedaan-perbedaan hingga sekarang.
Meskipun demikian, populasi di Indonesia telah diklasifikasi ulang, tidak terlalu merujuk asal suku mereka, tetapi lebih merujuk ke identitas bahasa mereka disebabkan oleh perbedaan yang disebutkan sebelumnya, ke dalam empat kelompok suku. Pengelompokan yang merujuk suku asal sangat sulit untuk direalisasikan terkait pernikahan antara suku yang terjadi di antara mereka. Ke empat kelompok suku tersebut adalah Melanesia (campurean antara sub-mongoloid dan wajak), Proto-Austronesian (termasuk wajak), Polynesia dan Micronesia.
Kelompok melanesia ini dikelompokkan lagi ke Aceh di Sumatera Utara, Batak di Sumatera Tenggara, Minangkabau di Sumatera Barat, Sunda di Jawa Barat, Jawa di Jawa Tengah dan Timur, Madura di pulau Madura, Bali, sasak di pulau Lombok, Timor di pulau Timor. Di pulau Kalimantan terdapat Dayak. Di pulau Sulawesi bagian utara terdapat Minahasa di bagian tengah terdapat Toraja, dan di bagian selatan terdapat Makasar dan Bugis. Suku Ambon di Maluku dan Irian di Papua tergolong Polynesia dan Proto-Austronesia. Micronesia terdapat di pulau-pulau kecil pada perbatasan timur Indonesia.
Populasi Indonesia berkisar 230 juta, populasi terbesar ke empat setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Salah satu masalah terbesar saat ini adalah tidak meratanya penyebaran penduduk. Sebagai contoh, sekitar 62 % penduduk hidup di pulau Jawa, yang lahan tersebut hanya merupakan 7 % dari keseluruhan wilayah negara. 

 
Suku
Penghuni pertama Indonesia tercatat 500.000 tahun yang lalu, bernama pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois yang menemukan fosil-fosil tersebut di beberapa tempat di pulau Jawa dan berdekatan dengan sungai bengawan solo. Fosil tersebut ditemukan pada tahun 1891 dan tahun 1892 di desa trinil, dinamakan homo soloensis, karena ditemukan di wajakkensis. Homo soloensis dengan karakteristik yang mirip dengan masyarakat austro melanosoid telah menjelajah ke barat (Sumatera) dan timur (Papua).
Pada masa 3000-500 sebelum masehi, Indonesia telah dihuni oleh penduduk migran sub-mongoloid dari asia yang dikemudian hari menikah dengan penduduk indigenous. Pada 1000 sebelum masehi, pernikahan silang masih terjadi dengan penduduk migran indo-arian dari asia-selatan, sub kontinen India. Gelombang masuk pendatang dari India hingga abad ke tujuh masehi membawa penyebaran agama Hindu ke seluruh kepulauan.
Pedagang muslim dari Gujarat dan Persia mulai mengunjungi Indonesia pada abad ke 13 dan membuat hubungan perdagangan antara negara ini dengan India dan Persia. Bersamaan dengan berdagang, penduduk Gujarat dan Arab juga menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut. Yang pertama menerima agama Islam adalah kerajaan-kerajaan pesisir pantai, yang sebelumnya memeluk Hindu.
Di Aceh, Islam diterima secara luas oleh masyarakat dengan kerajaan Pasai dan Perlak menjadi kerajaan muslim pertama di nusantara. Pertama diterima oleh lingkaran pengadilan, Islam menemukan jalan masuk ke komunitas pada babak selanjutnya.

Terutama di Jawa, ?wali songo? telah memainkan peran yang sangat penting.
Di tahun 1511, Portugis tiba di Indonesia. Kedatangan Portugis dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat Eropa terhadap rempah-rempah. Kedatangan mereka diikuti Spanyol, Belanda dan Inggris. Disamping mencari rempah-rempah, mereka juga mempropagandakan agama Kristen. Dalam persaingan tersebut, Belanda berhasil melakukan perdagangan monopoli terhadap rempah-rempah di seluruh nusantara, hal tersebut merupakan awal dari 350 tahun kolonialisme Belanda di seluruh nusantara.
Pada masa sebelum kemerdekaan, komunitas Indonesia memiliki masyarakat pesisir yang beragam. Masing-masing kelompok terikat satu dengan lainnya oleh rasa solidaritas dan identitas terhadap akar tanah, bahasa, seni, kultur dan kesamaan lainnya di antara mereka.
Ada terdapat lebih 500 kelompok suku di Indonesia tersebar dari Sabang (batas paling ujung sumatera) hingga Merauke di Papua. Komunitas Jawa merupakan jumlah tersebar dari total penduduk Indonesia, diikuti oleh Sunda, Madura, Minangkabau, Bugis, Batak dan Bali. Kelompok suku lainnya adalah Ambon, Dayak, Sasak, Aceh dll. Terpisah dari komunitas asli, komunitas lainnya keturunan asing adalah China, Arab dan India.

 
dan tanpa ada diskriminasi agama. Setiap warga negara harus menghormati dan bertoleransi terhadap kepercayaan masing-masing sementara berbagai bentuk program anti agama harus dihukum dan dilarang.
Bahasa dan Dialek
Bahasa dan dialek dipakai dalam percakapan dan tulisan di seluruh kepulauan Indonesia, 150 hingga 250 bahasa, lazimnya dikelompokkan menurut kelompok suku yang disebut di atas. Bahasa lokal utama di Indonesia antara lain adalah: Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Sasak, Dayak, Minahasa, Toraja, Bugis, Halmahera, Ambon, Irian hasa-bahasa lainnya. Di antara bahasa-bahasa tersebut terdapat banyak dialek yang berbeda.
Bahasa nasional Indonesia diperkenalkan secara resmi sejak kemerdekaan Indonesia dan bernama BAHASA INDONESIA. Lexikon dan struktur bahasa tersebut secara pokok berdasarkan ke bahasa melayu yang diperkaya oleh lexikon berbagai bahasa dan dialek yang dimiliki Indonesia. Meskipun bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa pemersatu, bahasa daerah yang ada juga setara dan tidak ada usaha dan niat untuk menghapuskan bahasa-bahasa daerah dan dialeknya. Oleh karena itu, bagian terbesar dari negara indonesia adalah bahasa.
Pada agustus 1973, Indonesia dan Mlaysia menandatangani sebuah kesepakatan kebudayaan mengenai ejaan Bahasa Persatuan di Malaysia dan Bahasa Indonesia di Indonesia yang memiliki kemiripan.
Agama
Selain keragaman suku, berbagai agama dan kepercayaan dapat ditemukan di Indonesia. Satu dari karakteristik khusus kebudayaan Indonesia adalah penghargaan tinggi terhadap komunitas lewat agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Terdapat lima agama, yang secara resmi diakui di Indonesia, mereka adalah Islam, Katholik, Protestan, Hindu dan Budha. Selain hal tersebut, keyakinan lain juga ditemukan, terutama dalam kelompok terisolir, yang diakui dan dinamakan kepercayaan tradisional. Menurut statistik, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.
Undang undang dasar 1945 republik Indonesia, pasal 29 ayat 2 menjamin kemerdekaan beragama. Setiap warga negara Indonesia memiliki hak menganut agama yang dipilihnya 
dan tanpa ada diskriminasi agama. Setiap warga negara harus menghormati dan bertoleransi terhadap kepercayaan masing-masing sementara berbagai bentuk program anti agama harus dihukum dan dilarang.
Seni dan Budaya
Indonesia kaya akan seni dan budaya yang saling dipengaruhi oleh agama dan tradisi kuno sejak zaman kedatangan barat dengan ajaran barat dan nilau budaya yang dibawa oleh pedagang portugis dan kolonial belanda. Ajaran dasar yang menjadi acuan kehidupan, memasukkan konsep gotong royong dan musyawarah mencapai mufakat. Berasal dari kehidupan pinggiran, kebiasaan atau hukum adat ini masih eksis dalam komunitas kehidupan perkotaan, berbeda dari satu daerah ke daerah lain.
Pengaruh agama dalam komunitas berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya. Tidak seperti negara lainnya, jenis kesenian di Indonesia tidak hanya berbasis cerita rakyat, banyak dari kesenian tersebut yang berkembang dalam lingkup kerajaan-kerjaan terdahulu seperti di Bali dan Jawa, dimana terdapat beberapa bagian seremoni keagamaan.
Tarian drama terkenal Jawa dan Bali adalah turunan dari mitologi Hndu. Dipenuhi dengan hiasan serta gaya dalam gerakan dan kostum, tarian dan drama wayang ditemani oleh sebuah kelompok musik gamelan yang memadu xylophones, drum, instrumen dawai dan tiup. Alat musik bambu dari Jawa Barat yang disebut angklung dimainkan bersamaan dengan pargelaran wayang oleh dayang di bali tirai putih, di mana bayangan dari karakter dapat terlihat di sisi lain layar, tempat penonton duduk.
Kerajinan Indonesia bervariasi dalam bentuk dan seni. Masyarakat menemukan seni oleh alam dan mewujudkan ide-idenyam inspirasi dan pelajarannya di atas kayu, besi, tanah lempung, pakaian dan batu. Batik adalah pakaian celupan dan ukiran lilin terkenal dari Jawa, diproduksi juga di daerah lainnnya seperti Bali, Jambi dan Madura yang beragam dalam mewakili kreativitas dan warna kedaerahannya. Provinsi lainnya memproduksi pakaian anyamana tangan dipadu dengan emas dan perak, sutra atau katun dengan disain yang rumit, seperti di Lampung, Palembang, Makasar dan Nusa Tenggara Barat.

 
 

 

Copyright © 2005 PTRI, All Rights Reserved, Designed by DLANET - Masterweb
Information | Disclaimers